Hanyalah sebuah coretan

Pentingnya PeDeKaTe ama Ulama (Ulama ahlussunnah wal jamaah)

~ Bismillah ~ . mungkin kita sudah kenal ama ulama , dan mungkin ada yang belum. Mungkin kita sudah sering mendengar fatawa (fatwa-fatwa) ulama , tapi mungkin itu kayaknya cuman masuk telinga kanan dan keluar di telinga kiri ( kaya ana dulu :-P) . jujur ana dulu ga kenal sama ulama , dan oleh sebab itu fatawa mereka ga mempan buat ana , ya maklum , soalnya masih newbie alias pemula and belum kenal , juga belum faham seberapa mulianya dan pentingnya untuk mengikuti dan mentaati fatawa mereka. Sekali lagi , pepatah menunjukan ke benaranya , ga kenal maka ga sayang . emang bener banget tu kata pepatah , kalo kita ga kenal kita ga bisa sayang , kita ga bakal tau , seberapa mulianya mereka itu . nah jadi intinya kita mestinya kenalan dulu (nah,lho). “heemmm,,emang siapa sih ulama itu, and seberapa penting peran mereka ?” Ulama itu adalah pewaris perbendarahan ilmu agama bro , sehingga ilmu syariat itu terpelihara kemurnianya sebagaimana awalnya. Nah makanya kematian dari salah satu mereka itu bisa mengakibatkan terbukanya fitnah besar bagi muslimin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan hal ini dalam sabdanya yang diriwayatkan Abdullah bin ‘Amr ibnul ‘Ash, katanya: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعاً يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِباَدِ، وَلَكِنْ بِقَبْضِ الْعُلَماَءِ. حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عاَلِماً اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْساً جُهَّالاً فَسُأِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)

 

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan: Asy-Sya’bi berkata: “Tidak akan terjadi hari kiamat sampai ilmu menjadi satu bentuk kejahilan dan kejahilan itu merupakan suatu ilmu. Ini semua termasuk dari terbaliknya gambaran kebenaran (kenyataan) di akhir zaman dan terbaliknya semua urusan.” Di dalam Shahih Al-Hakim diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr secara marfu’(riwayatnya sampai kepada Rasulullah):

“Sesungguhnya termasuk tanda-tanda datangnya hari kiamat adalah direndahkannya para ulama dan diangkatnya orang jahat.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 60) Meninggalnya seorang yang alim akan menimbulkan bahaya bagi umat .

 

bayangin aja salah satu dari mereka meninggal akan membahayakan umat ,ini terbukti kalo keberadaan ulama itu akan mendatangkan rahmat dan barakah dari Allah subhanahu wa ta’ala , sampai2 rasulallah shallallahu ‘alaihi wassalam mengisitilahkan mereka dalamsabdanya :

مَفاَتِيْحُ لِلِخَيْرِ وَمَغاَلِيْقُ لِلشَّرِّ

“Sebagai kunci-kunci untuk membuka segala kebaikan dan sebagai penutup segala bentuk kejahatan.”

 

Mungkin kita sudah tau gimana kedudukan ulama itu dalam kehidupan kaum muslimin , ini karena mereka itu adalah Perawaris para nabi , sedangkan nabi itu ga mewariskan apa apa kecuali ilmu Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Ilmu merupakan warisan para nabi dan para nabi tidak mewariskan dirham dan tidak pula dinar, akan tetapi yang mereka wariskan adalah ilmu. Barangsiapa yang mengambil warisan ilmu tersebut, sungguh dia telah mengambil bagian yang banyak dari warisan para nabi tersebut. Dan engkau sekarang berada pada kurun (abad, red) ke-15, jika engkau termasuk dari ahli ilmu engkau telah mewarisi dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ini termasuk dari keutamaan-keutamaan yang paling besar.” (Kitabul ‘Ilmi, hal. 16) Dari sini kita ketahui bahwa para ulama itu adalah orang-orang pilihan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ثُمَّ أَوْرَثْناَ الْكِتاَبَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْناَ مِنْ عِباَدِناَ “Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba kami.” (Fathir: 32)

Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan: Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Kemudian Kami menjadikan orang-orang yang menegakkan (mengamalkan) Al-Kitab (Al-Quran) yang agung sebagai pembenar terhadap kitab-kitab yang terdahulu yaitu orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, mereka adalah dari umat ini.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/577) Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan:

“Ayat ini sebagai syahid (penguat) terhadap hadits yang berbunyi Al-’Ulama waratsatil anbiya (ulama adalah pewaris para nabi).” (Fathul Bari, 1/83)

 

Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah mengatakan: Maknanya adalah: “Kami telah mewariskan kepada orang-orang yang telah Kami pilih dari hamba-hamba Kami yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an). Dan Kami telah tentukan dengan cara mewariskan kitab ini kepada para ulama dari umat engkau wahai Muhammad yang telah Kami turunkan kepadamu… dan tidak ada keraguan bahwa ulama umat ini adalah para shahabat dan orang-orang setelah mereka. Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuliakan mereka atas seluruh hamba dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan mereka sebagai umat di tengah-tengah agar mereka menjadi saksi atas sekalian manusia, mereka mendapat kemuliaan demikian karena mereka umat nabi yang terbaik dan sayyid bani Adam.” (Fathul Qadir, hal. 1418)

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.”

(Hadits ini diriwayatkan Al-Imam At-Tirmidzi di dalam Sunan beliau no. 2681, Ahmad di dalam Musnad-nya (5/169), Ad-Darimi di dalam Sunan-nya (1/98), Abu Dawud no. 3641, Ibnu Majah di dalam Muqaddimahnya dan dishahihkan oleh Al-Hakim dan Ibnu Hibban. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah mengatakan: “Haditsnya shahih.” Lihat kitab Shahih Sunan Abu Dawud no. 3096, Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2159, Shahih Sunan Ibnu Majah no. 182, dan Shahih At-Targhib, 1/33/68)

 

Nah tuh , dah jelas kan ,kalo ulama itu orang pilihan Allah dan juga dari sabda Rasulallah Shallallahu alaihi wassalam tadi juga jelas , kan ? kalo ulama itu adalah pewaris para nabi . coba deh kita pikir , ulama adalah pewaris para nabi yang mewarisi ilmu beliau , berarti ilmu beliau adalah ilmu dari para nabi tersebut yang ga perlu diragukan lagi kebenaranya. Berarti kalo misalnya kita ga nurut ama ulama , berarti kita ga nurut dong ama nabi soalnya kan ilmu nabi diwariskan kepada para ulama. Naudzubillah,semoga kita selalu menjadi hamba Allah yang sami’na waata’na ( kami dengar dan kami patuh) aamiiin. As syaikh shalih fauzan juga mengatakan kaya gini nih “Kita wajib memuliakan ulama muslimin karena mereka adalah pewaris para nabi, maka meremehkan mereka termasuk meremehkan kedudukan dan warisan yang mereka ambil dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta meremehkan ilmu yang mereka bawa. Barangsiapa terjatuh dalam perbuatan ini tentu mereka akan lebih meremehkan kaum muslimin.

 

Ulama adalah orang yang wajib kita hormati karena kedudukan mereka di tengah-tengah umat dan tugas yang mereka emban untuk kemaslahatan Islam dan muslimin. Kalau mereka tidak mempercayai ulama, lalu kepada siapa mereka percaya. Kalau kepercayaan telah menghilang dari ulama, lalu kepada siapa kaum muslimin mengembalikan semua problem hidup mereka dan untuk menjelaskan hukum-hukum syariat, maka di saat itulah akan terjadi kebimbangan dan terjadinya huru-hara.” (Al-Ajwibah Al-Mufidah, hal. 140)”

 

Jadi sudah sangat jelas sekali , seberapa pentingnya ulama itu , seberapa pentingnya untuk mengikuti mereka , karena pemahaman mereka adalah ilmu warisan para nabi. Nah kalo dah tau gini kan enak , kita bisa sayang ama ulama , and mengikuti juga anjuran anjuran dan larangan mereka , jadi kalo kita ada masalah or problem-problem tentang islam kita sandarkan ke para ulama ini , contoh : misal apa hukum musik ? maka kita dengarkan fatwa mereka baik baik , dan kita ikuti . bukanya kita nalar sendiri dan kita logika sendiri terus kita ngeluarin fatwa kita sendiri (ahahaha,emang siapa elu ? ) . ini yang terjadi banyak di kaum muslimin sekarang , melogika kan agama , sehingga banyak bermunculan aliran sesat , seperti sufisme , khawarij ,syi’ah dan lain – lain . maka berhati hatilah kawan , semoga Allah selalu memberi petunjuk kepada kita..aamiiiin..

Advertisements

4 responses

  1. Hammas Hamzah

    bagus, cuma capek yang baca. saran ana rajin2 pencet enter, alias dibikin paragraf2 🙂

    July 8, 2011 at 11:16 am

  2. hehe..sory2..sip2

    July 9, 2011 at 6:12 am

  3. Pingback: Pentingnya PeDeKaTe ama Ulama – Link website fatawa ulama2 salaf « Abu Tuffah

  4. Pingback: Pentingnya PeDeKaTe ama Ulama - Link website fatawa ulama2 salaf | Bilal BayasutBilal Bayasut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s