Hanyalah sebuah coretan

The Chronicles of Science , cinta and Pacaran [episode 2]

Lanjutan dari The Chronicles of Science , cinta and Pacaran [episode 1] , nah setelah kita saksikan the chronicles of cinta dari laila bintu al judi dan Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu’anhu . dan setelah kita fahami kisah tadi , maka mestinya kita ubah makna cinta itu . Ubah disini untuk kita mengembalikan ke arti yang sebenarnya, mungkin ana ga sehebat M.Anis Matta atau Salim A. Fillah apalagi Ibnu Jauziyah ( wah jauh banget ), bahkan ana nyontek dari mereka.
Cinta kita hanya untuk Allah SUBHANAHU WATA’ALA ( waduh kok langsung to the point sih), bagaimana wujudnya itulah yang kita bahas terutama dalam hal bercinta ( preeet…).

The Science of Love

Ketika kita merasakan cinta, maka pleasure feeling yang kita rasakan adalah peran dopamin. Bersama dengan meningkatnya kadar adrenalin yang mempercepat denyut jantung, serta rendahnya kadar serotonin yang menyebabkan rasa obsesif, dopamin memberikan efek membahagiakan, meningkatkan energi, menurunkan nafsu makan dan mengurangi konsentrasi.

The Journal of Comparative Neurolgy vol.493 Oktober 2005 memuat hasil penelitian yang dilakukan antar-bidang oleh antropolg, ahli fa’al dan neuroscientist. Mereka menggunakan functional magnetic resonance imaging (fMRI) untuk memperhatikan otak 17 orang wanita dan pria saat mereka sedang memperhatikan foto pasangan yang dicintainya. Data hasil pindai menunjukkan bahwa adanya peningkatan aliran darah dalam otak serta adanya peningkatan kadar reseptor dopamin dalam area caudate nucleus dan ventral tegmental area (VTA) sebelah kanan.

“Apa yang tampak dalam hasil pemindai tersebut”, kata Dr.Helen Fisher dari Rutgers University dalam jurnal yang sama, “Adalah suatu keinginan biologis untuk fokus terhadap satu objek.”Tinggi kadar dopamin diasosiasikan dengan meningkatnya perhatian, hiperaktivitas, keresahan dan perilaku berorientasi tujuan.

Sayangnya, riset menunjukkan cinta yang menggebu ini cepat berakhir. Sebuah tim kolaborasi ilmuwan dari Universitas Pisa Itaia menyebutkan bahwa, pleasure feelings dan passionate akan memudar dan hamper-hampir hilang setidak-tidaknya 2 tahun setelah hubungan intens antar pasangan terjadi. Sebabnya, sejalan dengan meningkatnya hubungan, oksitosin dan vasopressin akan mempengaruhi jalur-jalur dopamine dan adrenalin, membuat dua senyawa ini berkurang kadarnya. Tetapi, menjaga jalur adrenalin yang lebih mudah daripada dopamin- akan turut mempertahankan keceriaan cinta kita. Caranya dengan memberi banyak kejutan, ketegangan dan merasai hal baru dalam hidup. Dopamin, sang hormon cinta, insya Allah bertahan lebih lama.

Begitulah penjelasan secara ilmiah tentang cinta dan tentu ana akan membahas tentang kalimat-kalimat terakhir yang membuat ana tertarik. “ Memberi banyak kejutan, ketegangan dan merasai hal baru dalam hidup.”. Sangat menarik bagi ana kenapa? (jangan tanya kenapa), anggap kita menikah dengan melalui proses “pacaran” (pake kutip).

Kamu sudah berpacaran sama doi sudah 3 tahun (anggap) lalu menikah, anggap ini pacar pertama kamu lalu selama 3 tahun dah ngapain aja? (hayo ngaku), pegangan tangan (dalam waktu minimal 3 hari sudah bisa), cium pipi (minggu pertama),trus merambat ke yang laen…truusss sampai 3 tahun.

Ana bicarain orang yang masih awam buat “pacaran” gimana yang sudah “mahir”?. Bahkan baru jadian sudah bisa langsung ciuman (ngaku aja temen ana sendiri ngaku). Kita tidak membahas masalah meraba-raba (buta kali!).Tetapi ingat “pleasure feelings danpassionate akan memudar dan hampir-hampir hilang setidak-tidaknya 2 tahun setelah hubungan intens antar pasangan terjadi.” Jadi kalau 3 tahun kalian pacaran dan menikah. Kalian sudah kekurangan begitu banyak cinta.

Karena hubungan intens yang telah kalian lakukan selama 3 tahun, kalian sudah tidak bisa merasakan hal yang baru, ketegangan dan kejutan yang dibutuhkan untuk mempertahankan hormon cinta kalian. (ckckck…kasihan)

Maka beruntunglah kalian yang menikah tanpa jalur pacaran bahkan benar-benar belum begitu kenal satu sama lainnya, pada saat orang kekurangan cinta karena cintanya sudah penuh didalam hati, kalian mengisi cinta kalian yang kosong. Pada saat orang sudah tidak asing lagi dengan pasangannya, kalian “kaget” dengan ketidak tahuan kalian dengan pasangan kalian.

Disaat orang menikah karena cintanya sudah penuh, kalian memulai hidup dengan cinta kosong yang hanya diikat oleh pernikahan. Itulah kehidupan cinta yang begitu indah, hari-hari dimana kita mengisi cinta kepada orang yang belum kalian cinta ( kyu kyu cieeeeee).

Banyak orang takluk oleh cinta tetapi kita adalah penakluk cinta. Disaat orang mengalami “jatuh”cinta kita membangun cinta dalam diri.(puitis banget ga siih?). Jadi bagi kalian para perusak cinta, kami para pejuang cinta akan terus meluruskan apa yang telah engkau rusak, untuk engkau yang tertipu oleh cinta sadarlah cinta bukan seperti yang kalian anggap kalian hanya tertipu oleh kemegahan dan kemeriahan para perusak cinta dan bagi para pejuang cinta yakinlah cinta murni kalian tidak akan pernah dirusak oleh para perusak cinta, cinta kalian sudah dipegang oleh Sang Maha Pembolak-balik hati kalian.

Inilah cinta sejati

cinta yang tak perlu kau tunggu

tetapi tumbuh bersama do’a malam yang teduh

tak tersentuh oleh mata dunia yang palsu

(Thufail alghifari,catatan terakhir)

Mulai saat ini ubahlah cinta dalam diri kita maka kenikmatan cinta yang sesungguhnya akan dirasakan walaupun tubuh ini dikuliti hidup-hidup.

Nah terus akan timbul pertanyaan , gimana ane harus bersikap bos ?

Bersikaplah sewajarnya dan senantiasa gunakan nalar sehat dan hati nurani mu. Dengan demikian, tabir asmara tidak menjadikan pandangan ente kabur dan anda tidak mudah hanyut oleh bualan dusta dan janji-janji palsu.

Mungkin antum kembali bertanya: kalo kaya gitu, siapakah yang sebenarnya layak untuk mendapatkan cinta suci ana? Kepada siapakah ana harus menambatkan tali cinta ana?

Simaklah jawabannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ. متفق عليه

“Biasanya, seorang wanita itu dinikahi karena empat alasan: karena harta kekayaannya, kedudukannya, kecantikannya dan karena agamanya. Hendaknya engkau menikahi wanita yang taat beragama, niscaya engkau akan bahagia dan beruntung.” (Muttafaqun ‘alaih)

Dan pada hadits lain beliau bersabda:

إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ. رواه الترمذي وغيره.

“Bila ada seorang yang agama dan akhlaqnya telah engkau sukai, datang kepadamu melamar, maka terimalah lamarannya. Bila tidak, niscaya akan terjadi kekacauan dan kerusakan besar di muka bumi.” (Riwayat At Tirmizy dan lainnya)

Cinta yang tumbuh karena iman, amal sholeh, dan akhlaq yang mulia, akan senantiasa bersemi. Tidak akan lekang karena sinar matahari, dan tidak pula luntur karena hujan, dan tidak akan putus walaupun ajal telah menjemput.

الأَخِلاَّء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلاَّ الْمُتَّقِينَ. الزخرف 67

“Orang-orang yang (semasa di dunia) saling mencintai pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (Qs. Az Zukhruf: 67)

Jadi,my brother and sister in islam ,Cintailah kekasihmu karena iman, amal sholeh serta akhlaqnya, agar cintamu abadi. Tidakkah antum mendambakan cinta yang senantiasa menghiasi dirimu walaupun antum telah masuk ke dalam alam kubur dan kelak dibangkitkan di hari kiamat? Tidakkah antum mengharapkan agar kekasih antum senantiasa setia dan mencintai antum walaupun antum telah tua renta dan bahkan telah menghuni liang lahat?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ. متفق عليه

“Tiga hal, bila ketiganya ada pada diri seseorang, niscaya ia merasakan betapa manisnya iman: Bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dibanding selain dari keduanya, ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, dan ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan dirinya, bagaikan kebenciannya bila hendak diceburkan ke dalam kobaran api.” (Muttafaqun ‘alaih)

Ya ukhti wa akhi! hanya cinta yang bersemi karena iman dan akhlaq yang mulialah yang suci dan sejati. Cinta ini akan abadi, tak lekang diterpa angin atau sinar matahari, dan tidak pula luntur karena guyuran air hujan.

Yahya bin Mu’az berkata: “Cinta karena Allah tidak akan bertambah hanya karena orang yang engkau cintai berbuat baik kepadamu, dan tidak akan berkurang karena ia berlaku kasar kepadamu.” Yang demikian itu karena cinta antum tumbuh bersemi karena adanya iman, amal sholeh dan akhlaq mulia, sehingga bila iman orang yang antum cintai tidak bertambah, maka cinta antum pun tidak akan bertambah. Dan sebaliknya, bila iman orang yang antum cintai berkurang, maka cinta antum pun turut berkurang. kamu cinta kepadanya bukan karena materi, pangkat kedudukan atau wajah yang rupawan, akan tetapi karena ia beriman dan berakhlaq mulia. Inilah cinta suci yang abadi saudaraku.

My brothers and sisters! setelah kamu membaca tulisan sederhana ini, perkenankan ana bertanya: Benarkah cinta kamu suci? Benarkah cinta mu adalah cinta sejati? Buktikan saudaraku…

Wallahu a’alam bisshowab, mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan atau menyinggung perasaan.

Footnote:

ya akhi wa ukhti, setelah membaca kisah cinta sahabat Abdurrahman bin Abi Bakar ini, ana harap antum tidak berkomentar atau berkata-kata buruk tentang sahabat Abdurrahman bin Abi Bakar. Karena dia adalah salah seorang sahabat nabi, sehingga memiliki kehormatan yang harus anda jaga. Adapun kesalahan dan kekhilafan yang terjadi, maka itu adalah hal yang biasa, karena dia juga manusia biasa, bisa salah dan bisa khilaf. Amal kebajikan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu banyak sehingga akan menutupi kekhilafannya. Jangan sampai antum merasa bahwa diri antum lebih baik dari seseorang apalagi sampai menyebabkan antum mencemoohnya karena kekhilafan yang ia lakukan. Disebutkan pada salah satu atsar (ucapan seorang ulama’ terdahulu):

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ مَنْ عَابَهُ بِهِ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ

“Barang siapa mencela saudaranya karena suatu dosa yang ia lakukan, tidaklah ia mati hingga terjerumus ke dalam dosa yang sama.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s