Hanyalah sebuah coretan

Abi , Aku bukan siti nurbaya . . . !

Abi , Aku bukan siti nurbaya . . . !


Dari langit ke tujuh turunlah ayat yang menganjurkan agar segerah menikah,

“Dan kawinkanlah orang orang yang sendirian di antara kamu dan orang orang yang patut(kawin) dari hamba hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNYA.Dan Allah maha luas (pemberiaNYA) lagi maha mengetahui [QS. An-Nur:32]

Dalam tafsir ayat diatas, bahwa yang diajak biacara adalah para wali agar mereka segera menikahkan orang orang yang berada di bawah tanggung jawabnya yang belum menikah dan wajib menyegerakan pelaksanaanya,karena hal itu termasuk perkara menjaga kehormatan.

Oleh karena itu wali diberi hak dan kewenangan oleh syariat untuk menawarkan hingga menikahkan putri yang berada di bawah tanggung jawabnya dengan orang orang yang bagus agama,paras dan perangainya.

Berkaitan dengan ini , sering terjadi para wali cenderung ingin menang sendiri dan mencari jalan mudah serta agak kebablasan dalam melaksanakan mandat yang dibebankan kepadanya. Seperti menikahkan tanpa sepengetahuan dan kerelaan sang putrid. Mereka memandang putrinya kurang masak dalam memilih dan memilah siapa yang layak menikahinya. Baik kelayakan dari sisi nasab keturunan,kehormatan,kekayaan,maupun agama. Walaupun ada pula di antara para wali yang tergolong cendikia , memandang bahwa para putrid yang berada di bawah perwalianya tidak punya hak sama sekali dalam pernikahan dirinya berdasar dalil dalil yang dipahami.lantas bagaimana posisi sebenarnya ?

BERKAITAN DENGAN YANG HENDAK DINIKAHKAN

Pernikahan tidak lepas dari beberapa pihak , yaitu pihak yang dinikahkan dan pihak yang menikahkan. Dalam hal mempelai perempuan , mereka ini dapat diklasifikasi dalam beberapa keadaan antara lain :

  1. Gadis yang belum dewasa dan sehat akalnya

Ibnu hazm berkata berkenaan dengan perempuan yang masih gadis dan belum dewasa (baligh) , “seorang ayah boleh menikahkan putrinya yang masih kecil dan belum dewasa tanpa sepengetahuan dan kerelaan putrinya tersebut , dan putrinya tidak mempunyai pilihan setelah ia dewasa apakah hendak meneruskan pernikahanya tersebut atau menganulirnya”. Dan berkenaan dengan ini pula,terdapat atsar sahabat yang menunjukkan bahwa amalan seperti ini telah dimaklumi dan tidak ada penulikan yang mengingkari amalan tersebut.jadi hal ini telah menjadi semacam “ijma diam diam” dibenarkanya menikahkan perempuan yang belum baligh tanpa menanyakan kerelaan dan izin.

Akan tetapi sebenarnya lebih utama untuk tidak menikahkan dalam keadaan seperti ini (belum baligh), jika tidak ada kemaslahatan yang jelas dalam penyegeraan nikah ini. Apalagi kalau keduanya sama sama belum balighh , tidak menutup kemungkinan mereka berdua melakukan perbuatan yang belum tercerna dengan akal karena masih kecil dan mengakibatkan segera berakhirnya pernikahan tersebut di masa depan.

Wali memang mempunyai hak paksa menikahkan putrinya yang belum dewasa dengan seorang lelaki pilihanya , namun hendaknya tidak dilakukan kecuali Nampak adanya kemaslahatan yang jelas. Karena pernikahan ini berkaitan erat dengan diri gadis, dan masa depan kehidupanya.maka baiknya apabila sang gadis itu memiliki pandangan tentang suaminya. Sedangkan pandangan seseorang gadis dapat diterima dan diperhitungkan ketika ia memasuki usia dewasa, bukan sebelum baligh. Imam nawawi raduallahuanhu berkata “ketauhilah bahwa imam syafi’I dan para sahabatnya pernah berwasiat , ‘lebih kusukai apabila seorang ayah atau kakek dari gadis untuk tidak menikahkanya hingga ia memasuki usia dewasa kemudian meminta izinnya agar tidak menjerumuskanya kedalam kungkungan pernikahan sedangkan ia dalam keadaan terpaksa’.”[Syarah shahih muslim IX /206]

  1. Gadis yang telah baligh dan sehat akalnya

Seorang perempuan yang telah dewasa dan berakal sehat tidak memiliki hak untuk menikahkan dirinya sendiri. Rasulallah salallahualaihiwasallam bersabda , “tidak sah pernikahan (seorang gadis) melainkan dengan walinya” [HR.Ahmad]. jadi walilah yang berkuasa menikahkanya.

Di sisi lain ,kekuasaan wali terhadap anak perempuan yang telah dewasa bukan tanpa batasan,sehingga boleh memaksa nikah atau menghalang halangi. Karena pernikahan termasuk hak personal , maka seorang gadis yang telah dewasa berhak dimintai kerelaan nya bila hendak dinikahkan. Rasulallah Salallahualaihiwassalam bersabda , “Seorang gadis tidak dinikahkan hingga ia dimintai izin dari dirinya , dan izinya adalah diamnya” [HR.Muslim]

Sebagai konsekwensi hukumnya,bahwasanya seorang gadis yang telah baligh tidak boleh dinikahkan (dengan paksa) kecuali dengan izinnya. Inilah pendapat jumhur ulama salaf , madzhab abu hanifah dan ahmad. Pendapat inilah yang dipegang oleh ibnu qayyim. Karena pendapat yang demikian ini sesuai dengan hukum (sunnah) Rasulallah Salallahualaihi wasallam perintah dan laranganya,kaidah kaidah syariatnya dan kemaslahatan umatnya.

Dan adapun kesesuaianya dengan perintah , maka telah dikatakan “Gadis , dimintai izinnya”. Ini adalah perintah yang kuat, karena dipaparkan dengan nada berita yang menunjukkan akan telah terjadinya hal yang diberitakan, dikukuhkannya , dan dilazimkanya.

Padahal asas terhadap perintah Rasulallah Salallahualaihiwasallam adalah berkonskwensi wajib sepanjang tidak ada ijma’ yang menunjukkan kebalikanya.

Sedangkan kesesuaian dengan larangan , maka dalam sabda beliau salallahualaihi wasallam “ tidak boleh seorang gadis dinikahkan hingga ia dimintai izinnya.” Perintah dan larangan serta keputusan diberikanya pilihan ini merupakan pengukuhan hukum dengan cara yang paling gambling.

Adapun kesesuaiannya dengan kaidah syariat maka seorang gadis yang telah baligh dan berakal sehat bila mempunyai harta sedikit saja , maka ayahnya tidak boleh mempergunakannya kecuali dengan izinnya. Ayahnya juga tidak boleh memaksakannya untuk mengeluarkan sedikit saja hartanya guna diberikan kepada orang yang tidak dikehendaki anak gadisnya tersebut. Maka bagaimana bisa diperbolehkan ia ‘diperhambakan’ dan sebagaian anggota tubuhnya (yaitu harta yang paling berharga dari seorang perempuan) diberikan tanpa kerelaannya kepada orang yang tidak dikehendakinya, sedangkan orang tersebut adalah orang yang paling tidak disukainya?! Bahkan menjadikanya bak tawanan di tangan orang yang tidak disenanginya tersebut?!

Telah dimaklumi bahwa mengeluarkan seluruh hartanya tanpa kerelaanya lebih mudah bagi seorang gadis daripada menikahkannya dengan lelaki yang bukan pilihanya tanpa kerelaannya.maka batal lah pendapat orang yang mengatakan , bahwa bila ditunjukkan kepadanya seorang lelaki yang sepadan nantinya ia akan menyukainya , walaupun lelaki yang ditunjuk tersebut seorang yang sangat dibenci sang gadis dan buruk rupa.

Adapun kesesuaianya dengan kemaslahatan umat , tidak tersembunyi adanya kemaslahatan bagi sang gadis bila dinikahkan dengan seorang yang menjadi pilihanya dan disukainya serta tercapainya maksud-maksud pernikahan denganya bagi sang gadis, juga teraihnya kebalikanya bagi orang yang dibencinya dan paling tidak disukainya. Seandainya tidak ada sunnah yang berbicara mengenai hal ini, tentu qiyas yang shahih dan kaidah kaidah syariat tidak akan memberikan keputusan yang lain daripadanya.

  1. Janda

Disebutkan dalam salah satu hadits bahwa Rasulallah Salallahualaihiwasallam pernah bersabda , “ Seorang janda tidak boleh dinikahkan hingga ia diminta pendapatnya”[HR.Al Bukhari dan Muslim]

Dan juga sabdanya , “seorang janda lebih berhak atas dirinya dibanding dengan walinya”[HR.Muslim]

Maksudnya adalah diminta pendapat darinya berkenaan dengan pernikahanya.seorang wali nikah tidak boleh meng akadkan hingga (janda tersebut) dimintai pendapat dan izin berkenaan dengan pernikahanya.

Ibnu qudamah dalam al-mughni menyebutkan , “bahwasanya seorang janda ataupun gadis yang baligh tidak boleh dinikahkan oleh ayahnya atau  kakeknya atau siapapun yang lain kecuali dengan kerelaanya” [al-mughni VI/492] dan hadits di atas juga menunjukan secara nyata akan wajibnya meminta pandangan (pendapat) dari meminta pandangan (pendapat) dari janda ketika hendak menikahkannya. Ini merupakan hujjah terhadap pendapat siapapun yang menyelisihinya. Oleh karena itu para ulama lebih mendahulukan kerelaan dan izin seorang janda agar tercapai sahnya pernikahan.

Sumber : majalah pendidikan dan dakwah al akbar volume 3 edisi 36 jumadil awwal 1430 H mei 2009

Advertisements

One response

  1. Hello, you post interesting content on your page, you deserve much more visitors, just search in google for
    – augo’s tube traffic

    January 6, 2015 at 3:04 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s