Hanyalah sebuah coretan

Catatan Untuk Seorang Kawan (kumpulan dalil tentang evaluasi harian dan lainya)

Bismillah

Awalnya mari kita fahami makna sunah nabi

Makna sunnah Nabi

Yang dimaksut dengan sunnah nabi adalah petunjuk dan jalan yang ditempuh. Di dalamnya mencakup perkara-perkara yang hukumnya oleh Rasulallah baikpun itu wajib maupun sunnah,yang berkaitan dengan akidah maupun ibadah dan yang berkaitan mualamah maupun akhlak.
Para ulama mengatakan bahwa sunnah artinya mengamalkan Al Qur’an dan hadits serta mengikuti para pendahulu yang shalih serta ber-ittiba’ (berteladan) dengan jejak mereka. (Al Hujjah fi Bayanil Mahajjah,2/428,Ta’dhimus Sunnah,18).
Ibnu Rajab menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan As Sunnah pada asalnya adalah jalan yang ditempuh dan itu meliputi sikap berpegang teguh dengan apa yang dijalani oleh Nabi dan para khalifahnya baik keyakinan, amalan, maupun ucapan. Dan inilah makna As Sunnah secara sempurna. (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, hadits no. 28) .


Dan Rasulallah,menegaskan dalam hadist nya :
“Wajib atas kalian berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah para Al Khulafa Ar Rasyidin…”(Shahih, HR Ahmad, Abu Dawud dan At Tirmidzi, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’, 2549]
Dan Allah sendiri memerintahkan :
“Dan apa yang diberikan Rasul kepada kalian maka ambillah sedang apa yang beliau larang darinya maka berhentilah.” (Al Hasyr: 7)
Asy Syaikh Abdurrahman As Sa’di mengatakan: “Perintah ini mencakup prinsip-prinsip agama dan cabang-cabangnya baik lahir maupun batin dan bahwa yang dibawa oleh Rasul maka setiap hamba harus menerimanya dan tidak halal menyelisihinya. Apa saja yang disebut oleh Rasul seperti apa yang disebut oleh Allah, tidak ada alasan bagi seorangpun untuk meninggalkannya dan tidak boleh mendahulukan ucapan siapapun atas ucapan Rasul.” (Taisir Al Karimirrahman, 851)
“Barangsiapa yang mentaati Rasul berarti ia mentaati Allah.” (An Nisa’: 80)

Maksudnya, setiap orang yang taat kepada Rasul dalam perintah dan larangan berarti ia taat kepada Allah karena Nabi tidak memerintah atau melarang kecuali dengan perintah dari Allah. Ini berarti pula terlindunginya Nabi dari kesalahan karena Allah memerintahkan kita untuk taat kepadanya secara mutlak. Kalau seandainya beliau tidak ma’shum (terjaga dari salah) pada apa yang beliau sampaikan dari Allah, tentu Allah tidak akan memerintahkan taat kepadanya secara mutlak dan tidak memujinya. (Taisir Al Karimirrahman, 189 dan Tafsir Ibnu Katsir, 2/541)

“Dan tidaklah ada pilihan bagi seorang mukmin atau mukminah jika Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan sebuah perkara pada urusan mereka.” (Al Ahzab: 36)

Ibnu Katsir mengatakan: “Ayat ini umum pada seluruh perkara yaitu jika Allah dan Rasul-Nya menetapkan hukum sebuah perkara maka tidak boleh bagi seorangpun untuk menyelisihinya. Tidak ada peluang pilihan, ide atau pendapat bagi siapapun di sini.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/498)

Ketiga ayat ini menunjukkan secara jelas bagaimana semestinya kita menempatkan Sunnah Nabi, yakni wajib mengambilnya dan merupakan keharusan yang tidak ada tawar-menawar lagi. Kemudian menjadikan Sunnah tersebut sebagai pedoman dalam melangkah melakukan ketaatan kepada Allah. Hal itu karena Allah jadikan Nabi-Nya sebagai penjelas Al Qur’an sebagaimana dalam firman-Nya:

“Dan kami turunkan kepadamu Al Qur’an agar engkau terangkan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka.” (An-Nahl: 44)

Selanjutnya kita lihat bagaimana hadits-hadits yang memerintahkan untuk mengikuti Sunnah, di antaranya:

Dari Al Irbadh bin Sariyah ia berkata: “Rasulullah memberikan sebuah nasehat kepada kami dengan nasehat yang sangat mengena, hati menjadi gemetar dan matapun menderaikan air mata karenanya, maka kami katakan:’ Wahai Rasullullah seolah-olah ini nasehat perpisahan maka berikan wasiat kepada kami’, lalu beliau katakan: ‘Saya wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak karena sesungguhnya barangsiapa yang hidup sepeninggalku ia akan melihat perbedaan yang banyak, maka wajib atas kalian bepegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah para Al Khulafa Ar Rasyidin, gigitlah dengan gigi-gigi geraham kalian dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru karena sesungguhnya semua bid’ah itu sesat.” (Shahih, HR Ahmad, Abu Dawud dan At Tirmidzi, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’, 2549)
Demikian Nabi mewasiatkan kepada para sahabat beberapa wasiat penting di antaranya perintah untuk berpegang teguh dengan Sunnahnya dan Sunnah para Khulafa Ar Rasyidin. Bahkan beliau menyuruh untuk menggigitnya dengan gigi kita yang paling kuat. Di masa sahabat saja Rasulullah telah berwasiat demikian, lebih-lebih di zaman sepeninggal beliau di mana kondisi masyarakat dari sisi keagamaan semakin buruk dengan munculnya berbagai perselisihan dan bid’ah pada perkara-perkara yang prinsipil.
Dari penjelasan di atas,telah jelas sekali bahwa sangat penting sekali untuk mengikuti sunnah rasulallah saw , karena akhlak beliau adalah al quran,dan jalan hidup beliau adalah jalan hidup yang terbaik.

Dan ini adalah beberapa ayat dan hadits mengenai sunnah rasul dan bid’ah
Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).(Al araf 3)
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.(Qs At taubah : 100)
Allah Sunhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Qs. Al-Isra’:36)
Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak didasari oleh agama kami, maka amalannya tertolak.” (HR. Muslim)
“Barangsiapa yang membuat-buat ibadah yang bukan merupakan bagian darinya, maka ibadah itu tertolak.” (HR. Bukhari Muslim)
Firman Allah Ta’ala, “Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (Qs. At-Taubah:100)
Allah berfirman di dalam Al-Quran: Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu,Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Katakanlah, “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. (QS. 3:31-32)

“…Dan hendaklah kamu menjauhi perkara-perkara yang diada-adakan , kerana setiap yang diada-adakan itu adalah bid’ah , dan setiap bid’ah itu adalah sesat “ . [Diriwayatkan oleh Imam Abu Daud]

Dari Aisyah berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa yang membuat-buat ajaran di dalam agama kami ini, yang bukan darinya, maka ia tertolak. Dalam riwayat lain: “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak didasari oleh agama kami, maka amalannya itu tertolak.”

Huzaifah Ibnu Al-Yamaan ra berkata : “Setiap ibadah yg tidak dilakukan oleh sahabat Rasulullah saw, maka janganlah melakukannya”

Kata-kata sahabat Rasulullah saw: Huzaufah Ibnu Al-Yamaan ra berkata : “Setiap ibadah yg tidak dilakukan oleh sahabat Rasulullah saw, maka janganlah melakukannya” Dan berkata Ibnu Mas’ud :”Ikutlah (sunnah) dan jangan menambah, dan telah cukup bagi kamu – perbuatan yg lama (kekal dengan cara lama)”
Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu[348] dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS An Nisa : 115)
[348]. Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan.

Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur- angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.(Qs An nur : 63)
Tentang evaluasi harian :

Ikhwah fillah… ingat kisah seorang sahabat yang mengadukan pada beliau bahwa dia berizina.. dan Rasulullah berusaha untuk tidak melihat dan pura pura tidak mendengarnya… Ini mengindikasikan … Rasulullah lebih senang bisa seorang berdosa dia menyimpan dosanya dan bertobat pada Allah dengan bersungguh sungguh … tidak ada kewajiban baginya untuk membagi aib dirinya…apalagi aib saudara dan keluarganya…. Wallahualam…..
Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda.
“Allan nanti akan mendekatkan orang mukmin, lalu meletakkan tutup dan menutupnya. Allah bertanya : “Apakah kamu tahu dosamu itu ?” Ia menjawab, “Ya Rabbku”. Ketika ia sudah mengakui dosa-dosanya dan melihat dirinya telah binasa, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Aku telah menutupi dosa-dosamu di dunia dan sekarang Aku mengampuninya”. Kemudian diberikan kepada orang mukmin itu buku amal baiknya. Adapun orang-orang Kafir dan orang-orang munafik, Allah Subhanahu wa Ta’ala memanggilnya di hadapan orang banyak. Mereka orang-orang yang mendustakan Rabbnya. Ketahuilah, laknat Allah itu untuk orang-orang yang zhalim” [Hadits Riwayat Bukhari Muslim]
Ini tentang membuka aib dan dosa,mana mungkin kita membuka aib yang ditutupi oleh Allah.
Dan untuk evaluasi harian , dengan alas an apapun rasanya tidak wajar untuk melakukanya,karena seharusnya seorang muslim harus tawadhu dan berhak menyembunyikan amal sholehnya.

Perkataan al-Imam as-Subki seperti yang dinukilkan oleh Ibn Hajar al-‘Asqalani as-Syafi’ie:

اَلْأَصْلَ فِي اَلْعِبَادَةِ اَلتَّوَقُّف

Terjemahan: “Asal hukum di dalam ibadat adalah tawaqquf (berhenti hingga ada dalil)”.

(Fath al-Bari: 4/174)

Kata pengarang Nihayah al-Muhtaj dalam mazhab As-Syafi’ie:

الْأَصْلُ فِي الْعِبَادَةِ أَنَّهَا إذَا لَمْ تُطْلَبْ لَا تَنْعَقِدُ

Terjemahan: “Asal hukum di dalam ibadat adalah jika ia tidak dituntut, ia tidak berlaku”.

(Nihayah al-Muhtaj ila Syarh al-Minhaj:3/109)

Kata al-Bujairami as-Syafi‘ie menukilkan perkataan as-Syaubari:

الْأَصْلَ فِي الْعِبَادَةِ إذَا لَمْ تَطْلُبْ بُطْلَانَهَا

Terjemahan: “Asal hukum di dalam ibadat adalah jika tidak dituntut, adalah terbatal”.

(Hasyiah al-Bujairami ‘ala al-Khatib: 3/497)

Kata Muhammad Bin Yusuf Bin Isa Atfisy al-Ibadi:

وَأَنَّ الْأَصْلَ فِي الْعِبَادَةِ أَنْ لَا تُحْمَلَ عَلَى الْوُجُوبِ إلَّا لِدَلِيلٍ

Terjemahan: “ Bahawasanya asal hukum di dalam ibadat adalah tidak membawa kepada wajib melainkan dengan adanya dalil”.

(Syarh al-Nayl wa Syifa’ al-‘Alil: 7/211)

Kata as-Syeikh Muhammad Bin Muhammad:

الْأَصْلُ فِي الْمَنَافِعِ الْإِبَاحَةُ وَفِي الْمَضَارِّ التَّحْرِيمُ فَقَالَ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْهُمْ الْإِسْنَوِيُّ وَهَذَا إنَّمَا هُوَ بَعْدَ وُرُودِ الشَّرْعِ بِمُقْتَضَى الْأَدِلَّةِ الشَّرْعِيَّةِ وَأَمَّا قَبْلَ وُرُودِهِ فَالْمُخْتَارُ الْوَقْفُ

Terjemahan: “Asal hukum dalam perkara bermanafaat ialah mubah (harus) manakal dalam perkara mudarat ialah haram. Maka berkata ramai ulama antaranya al-Imam al-Isnawi: dan ini hanya berlaku selepas disyariatkan dengan dalil-dalil syar‘ie, sedangkan sebelum warid (ada dalil), maka pilihan para ulama ialah waqf (berhenti pada dalil)”.

(Al-Taqrir wa al-Tahbir: 3/19 8)
Kata pengarang kitab Syarah al-Bahjah al-Wardiyyah dalam Fiqh Syafi‘ie:

الْأَصْلَ فِي الْعِبَادَاتِ التَّوْقِيفُ

Terjemahan: “Asal hukum di dalam ibadat adalah tawqif (bersandarkan kepada dalil)”.

(Syarh al-Bahjah al-Wardiyyah: 4/150)

Kata as-Syeikh Abd. Rahman as-Sa‘di:

الأصل في العبادات الحظر ؛ فلا يشرع منها إلا ما شرعه الله ورسوله ، والأصل في المعاملات والاستعمالات كلها الإباحة ; فلا يحرم منها إلا ما حرمه الله ورسوله…

Terjemahan: “Asal hukum dalam ibadat adalah dilarang; maka tidak disyariatkan daripadanya melainkan apa yang disyariatkan oleh Allah dan rasul-Nya, manakala asal hukum di dalam muamalat dan kepenggunaan seluruhnya adalah harus; maka tidak diharamkan melainkan apa yang diharamkan oleh Allah dan rasul-Nya”.

(Taisir al-Latif al-Mannan fi Khulasah Tafsir al-Ahkam : 1/299)

Kata as-Syeikh Abd. Rahman Bin Muhammad al-Hanbali:

الأصل في العبادات التشريع . وكل بدعة ضلالة ، هذا معنى شهادة أن محمدا رسول الله

Terjemahan: “Asal hukum di dalam ibadat adalah apa yang disyariatkan. Dan setiap bid‘ah adalah kesesatan, inilah makna penyaksian bahwasanya Muhammad adalah rasul Allah”.

(Hasyiah al-Usul al-Thalathah: 1/91)

Kata as-Syeikh Said Bin Ali al-Qahtani:

الأصل في الأشياء الإباحة؛ لأن الله خلق لعباده جميع ما على الأرض لينتفعوا به، إلا ما حرمه سبحانه وتعالى .الأصل في العبادات الحظر والتوقيف إلا ما ثبت في الشرع تشريعه عن الله عز وجل، أو عن رسوله صلى الله عليه وسلم

Terjemahan: “Asal hukum di dalam semua perkara adalah harus; kerana Allah telah mencipta bagi hamba-Nya semua benda di atas muka bumi untuk mereka manfaatkannya, melainkan apa yang diharamkan oleh-Nya S.W.T. Asal hukum di dalam ibadat adalah dilarang dan bersandarkan dalil melainkan apa yang thabit di dalam syarak ia disyariatkan oleh Allah ‘azza wa jalla atau dari rasulullah S.A.W”

(Fiqh al-Da‘wah fi Sahih al-Imam al-Bukhari: 4/195)

Perkataan Ibn Qayyim al-Jawziyyah:

الأصل في العبادات البطلان إلا ما شرعه اللّه ورسوله

Terjemahan: ““Asal hukum di dalam ibadat adalah batal melainkan apa yang disyariatkan oleh Allah dan rasul-Nya”.

(Ahkam Ahli al-Dhimmah: 1/121)

Perkataan Syeikh al-Islam Ibn Taymiyyah:

فَبِاسْتِقْرَاءِ أُصُولِ الشَّرِيعَةِ نَعْلَمُ أَنَّ الْعِبَادَاتِ الَّتِي أَوْجَبَهَا اللَّهُ أَوْ أَحَبَّهَا لَا يَثْبُتُ الْأَمْرُ بِهَا إلَّا بِالشَّرْعِ . وَأَمَّا الْعَادَاتُ فَهِيَ مَا اعْتَادَهُ النَّاسُ فِي دُنْيَاهُمْ مِمَّا يَحْتَاجُونَ إلَيْهِ وَالْأَصْلُ فِيهِ عَدَمُ الْحَظْرِ فَلَا يَحْظُرُ مِنْهُ إلَّا مَا حَظَرَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى . وَذَلِكَ لِأَنَّ الْأَمْرَ وَالنَّهْيَ هُمَا شَرْعُ اللَّهِ وَالْعِبَادَةُ لَا بُدَّ أَنْ تَكُونَ مَأْمُورًا بِهَا ، فَمَا لَمْ يَثْبُتْ أَنَّهُ مَأْمُورٌ بِهِ كَيْفَ يُحْكَمُ عَلَيْهِ بِأَنَّهُ عِبَادَةٌ وَمَا لَمْ يَثْبُتْ مِنْ الْعِبَادَاتِ أَنَّهُ مَنْهِيٌّ عَنْهُ كَيْفَ يُحْكَمُ عَلَى أَنَّهُ مَحْظُورٌ وَلِهَذَا كَانَ أَحْمَد وَغَيْرُهُ مِنْ فُقَهَاءِ أَهْلِ الْحَدِيثِ يَقُولُونَ : إنَّ الْأَصْلَ فِي الْعِبَادَاتِ التَّوْقِيفُ فَلَا يُشْرَعُ مِنْهَا إلَّا مَا شَرَعَهُ اللَّهُ تَعَالَى .

Terjemahan: “Maka dengan membanci usul syariah, kita mengetahui bahawa ibadat-ibadat yang diwajibkan oleh Allah atau yang disukai oleh Allah tidak thabit (kewujudannya) melainkan dengan dalil syarak. Adapun adat, adalah kebiasaan manusia tentang dunia mereka daripada apa yang diperlukan oleh mereka, dan asal hukum di dalam hal ini adalah tidak dilarang, oleh itu tidak dilarang melainkan apa yang dilarang oleh Allah S.W.T. Demikian itu kerana perintah dan larangan adalah syariat Allah dan ibadat tidak boleh tidak mestilah sesuatu yang diperintahkan, maka apa-apa yang tidak thabit bahawa ia diperintahkan bagaimana hendak dihukum bahawa ia adalah ibadah? Begitu juga sesuatu yang tidak thabit di dalam ibadat bahawa ia dilarang, bagaimana boleh dihukum bahawa ia dilarang? Oleh demikian, Ahmad (Bin Hanbal) dan selain beliau dari kalangan Fuqaha’ ahli hadith berkata: Sesungguhnya asal hukum di dalam ibadat adalah tawqif (berdasarkan dalil), maka tidak disyariatkan daripadanya melainkan apa yang disyariatkan oleh Allah Taala”.

(Majmu‘ Fatawi Ibn Taymiyyah: 6/452)

Berkata pula Ibn Rajab al-Hanbali:

والأعمال قسمان : عبادات ، ومعاملات . فأما العبادات ، فما كان منها خارجاً عن حكم((4)) الله ورسوله بالكلية ، فهو مردود على عامله ، وعامله يدخل تحت قوله : { أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ الله } ((5)) ، فمن تقرَّب إلى الله بعمل ، لم يجعله الله ورسولُه قربة إلى الله ، فعمله باطلٌ مردودٌ عليه ، وهو شبيهٌ بحالِ الذين كانت صلاتُهم عندَ البيت مُكاء وتصدية ، ….. فقد رأى النَّبيُّ – صلى الله عليه وسلم – رجلاً قائماً في الشمس ، فسأل عنه ، فقيل : إنَّه نذر أنْ يقوم ولا يقعدَ ولا يستظلَّ وأنْ يصومَ ، فأمره النَّبيُّ – صلى الله عليه وسلم – أنْ يَقعُدَ ويستظلَّ ، وأنْ يُتمَّ صومه((6)) فلم يجعل قيامه وبروزه للشمس قربةً يُوفى بنذرهما .

Terjemahan:

Amalan terbahagi kepada dua: ibadat dan muamalat. Adapun ibadat, apa-apa sahaja daripadanya yang keluar dari arahan Allah dan rasul-Nya secara seluruhnya, maka ia tertolak kepada pelakunya. Pelakunya termasuk di dalam maksud ayat : { أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ الله }

Oleh itu barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu amalan yang tidak dijadikan oleh Allah dan rasul-Nya sebagai ibadat, maka amalan itu adalah batil dan tertolak kembali kepadanya. Ini sama seperti orang-orang yang solat di al-Bait (Masjidil Haram) secara bersiul-siul dan bertepuk tangan……sesungguhnya Nabi S.A.W telah melihat seorang lelaki yang berdiri di bawah panas mentari, lalu baginda bertanya tentangnya, dijawab kepada baginda: sesungguhnya dia (lelaki itu) bernazar untuk berdiri dan tidak duduk, tidak berteduh dan berpuasa. Nabi S.A.W mengarahkan dia supaya duduk dan berteduh, juga mengarahkannya meneruskan puasanya (H.R al-Bukhari, Abu Daud dan lain-lain). Maka Rasul tidak menjadikan perbuatan berdiri dan berpanas di bawah matahari itu sebagai suatu qurbah (perbuatan mendekatkan diri kepada Allah) yang perlu dipenuhi lantaran nazarnya.

(Jami‘ al-‘Ulum wa al-Hikam: 7/3)
Jadi ya akhi,kalo dari yang sudah ana cantumkan di atas,bahwa asal hukum ibadah adalah haram , kecuali ada dalil yang menghalalkanya , dan kalau masalah dunia hukum asalnya adalah wajib kecuali yang ada dalil yang mengharamkan..

Jadi jika ada amalan baru kita seharusnya memberikan dalilnya,bukan dengan mencari dalil yang dilarang.karena hukum dasar ibadah itu adalah haram,kecuali yang disyariatkan

Sekian terima kasih..semoga bermanfaat jazakallah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s